JENIS KELAMIN DAN GENDER


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Hal pertama yang biasanya ditanyakan oleh orang tua saat kelahiran anaknya adalah apakah anaknya itu “laki-laki ataukah perempuan”. Urgensi pertanyaan tersebut membawa dampak yang sangat penting, yakni masyarakat membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Pembagian spesies manusia ke dalam dua kategori fundamental itu didasarkan pada jenis kelamin atau perbedaan biologis. Dalam perkembangannya, masyarakat mengelaborasi fakta biologis ini ke dalam terminology sekunder non biologis, yaitu “maskulinitas” dan “feminitas”. Konsep-konsep itu tidak merujuk pada jenis kelamin, tetapi pada jender, perbedaan-perbedaan yang secara kultural dipelajari antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat cenderung mengasumsikan bahwa maskulinitas adalah bagian dari keadaan alamiah manusia atau takdir, sebagaimana perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat mengharapkan pula agar laki-laki dan perempuan memainkan peran-peran jender spesifik, yaitu pola-pola perilaku, kewajiban, yang dianggap pantas untuk masing-masing jenis kelamin. Karena status sosial dari kedua jenis kelamin itu biasanya tidak sama, peran-peran jender inipun cenderung mereflelsikan stratifikasi jenis kelamin yang sudah ada.

B. Rumusan Masalah

Dalam kajiam makalah yang bertemakan “Jenis Kelamin dan Gender” ini, pemakah mencoba mengangkat masalah-masalah sebagai berikut :

1. Pengertian jenis kelamin dan jender

2. Gender dan perempuan

3. Gender lintas cultural

4. Feminisme

5. Gender di Indonesia

6. Gender dalam perspektif Islam

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Jenis Kelamin dan Jender

1. Jenis Kelamin

Jenis Kelamin adalah perbedaan bentuk, sifat, dan fungsi biologi laki-laki dan perempuan yang menentukan perbedaan peran mereka dalam menyelenggarakan upaya meneruskan garis keturunan.1 Lebih dari 2000 tahun yang lalu, seorang filsuf Yunani, Aristoteles, menyatakan bahwa perempuan lebih lemah dan pasif daripada laki-laki karena jenis kelamin perempuan adalah “suatu ketidaksempurnaan”. Ia mencoba menemukan bukti untuk menunjukan bahwa laki-laki dan perempuan tidak hanya secara alamiah tidak sama, tetapi juga tidak sederajat. Dugaan inferioris perempuan dihubungkan dengan kondisi kosmis, sepeti menstruasi, ukuran kepala, dan bahkan struktur otak yang lebih kecil dibandingkan laki-laki. Berikut beberapa perbedaan laki-laki dan perempuan : 2

a. Bukti Biologis

Laki-laki dan perempuan memiliki gen yang berbeda, yang mempengaruhi perkembangan fisik mereka. Perempuan memiliki dua kromosom yang sama (XX), sedangkan laki-laki memiliki krosom yang berbeda (XY). Laki-laki dan perempuan juga memiliki hormone yang berbeda. Diyakini ada pengaruh spesifik hormone ini terhadap perkembangan fisik dan emosi. Kedua jenis kelamin masing-masing memiliki hormone “kelelakian” dan hormone “kewanitaan”. Proporsi hormone kelelakian lebih besar pada laki-laki dan hormone kewanitaan lebih banyak pada perempuan. Selain itu juga perbedaan anatomi atau struktur fisik antara laki-laki dan perempuan yang dalam hal ini adalah system reproduksi dan konsekuensinya.

b. Bukti Psikologis

Perbedaan yang tampak dari pengamatan sehari-hari adalah bahwa laki-laki lebih agresif, sedangkan perempuan lebih emosional dan afektif. Perbedaan ini terutama terdapat pada orang dewasa. Akan tetapi, persoalannya adalah apakah perbedaan-perbedaan itu dipelajari ataukah bersifat alamiah? Jika pada orang dewasa rasanya tidak tepat karena mereka sudah mengalami sosialisasi yang mempengaruhi perkembangan biologisnya.

2. Gender

Gender adalah konsep yang melihat peran laki-laki dan perempuan dari segi sosial dan budaya, tidak dilihat dari jenis kelaminnya. Sedangkan relasi gender mempersoalkan posisi perempuan dan laki-laki dalam pembagian sumber daya dan tanggung jawab, manfaat, hak-hak, dan kekuasaanya. Berbicara tentang gender berarti berbicara tentang laki-laki dan perempuan. Namun gender tidak memiliki asal usul biologis. Hubungan antara jenis kelamin dan gender tidak benar-benar alamiah. Ann Oakley sebagaimana dikuti oleh Istibsyaroh, menyatakan bahwa gender adalah perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Perbedaan biologis adalah perbedaan jenis kelamin yang bermuara dari kodrat Tuhan, sementara gender adalah perbedaan yang bukan kodrat Tuhan, tetapi diciptakan oleh kaum laki-laki dan perempuan melalui proses sosial dan budaya yang panjang. Gender dan jenis kelamin sangat berbeda sekali, karena jenis kelamin bersifat alamiah, sedangkan gender peran dan fungsinya dibentuk oleh keadaan masyarakat, sosial dan budayanya.. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat perbedaan antara jenis kelamin dan gender sebagai berikut: 3

Jenis Kelamin (Sex)

Gender

1. Jenis kelamin bersifat alamiah

2. Jenis kelamin bersifat biologis. Ia merujuk kepada perbedaan yang nyata dari alat kelamin dan perbedaan terkait dalam fungsi kelahiran.

3. Jenis kelamin bersifat tetap, ia akan sama dimana saja.

4. Jenis kelamin tidak dapat diubah.

1. Gender bersifat sosial budaya danmerupakan buatan manusia

2. Gender bersifat sosial budaya, dan merujuk kepada tanggung jawab peran, pola perilaku dan lain-lainyang bersifat maskulin dan feminim.

3. Gender bersifat tidak tetap, ia berubah dari waktu ke waktu, dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lainnya, bahkan dari satu keluarga ke keluarga lainnya.

4. Gender dapat diubah

Gender memiliki perbedaan-perbedaan bentuk antara satu masyarakat dengan masyarakat lain karena norma-norma, adat istiadat, kepercayaan, dan kebiasaan masyarakat yang berbeda. Misalnya:

· Menjadi tukang batu dianggap tidak pantas dilakukan oleh perempuan, tetapi di Bali perempuan biasa menjadi tukang batu, tukang cat

· Di kebanyakan masyarakat petani, bekerja kebun adalah tugas laki-laki; sedangkan di sejumlah masyarakat Papua, kerja kebun merupakan tugas utama perempuan, karena berburu adalah tugas utama laki-laki.

Gender berubah dari waktu ke waktu karena adanya perkembangan yang mempengaruhi nilai-nilai dan norma-norma masyarakat tersebut. Misal:

· Di Jawa Barat, sudah ada perempuan yang menjadi kepala desa karena meningkatnya pendidikan.

· Di Sumba, laki-laki membantu-bantu ‘tugas perempuan’ dirumah tangga

B. Gender dan Perempuan

Perempuan secara langsung menunjuk kepada salah satu dari dua jenis kelamin, meskipun di dalam kehidupan sosial selalu dinilai sebagai the other sex yang sangat menentukan mode sosial tentang status dan peran perempuan. Marginalisasi perempuan yang muncul kemudian menunjukan bahwa perempuan menjadi the second sex, seperti juga sering disebut sebagai “warga kelas dua” yang keberadaanya tidak begitu diperhitungkan.

Pembahasan tentang perempuan sebagai suatu kelompok memunculkan sejumlah kesulitan. Konsep “posisi perempuan” dalam masyarakat member kesan bahwa , ada beberapa posisi universal yang diduduki oleh setiap perempuan di semua masyarakat. Perempuan ikut andil dalam stratifikasi masyarakat. Ada perempuan kaya, ada perempuan miskin, dan latar belakang kaum perempuan mungkin sama penting dengan gendernya dalam menentukan posisi mereka di masyarakat.

Istilah gender juga berguna karena istilah itu mencakup peran sosial kaum perempuan maupun laki-laki. Hubungan antara keduanya seringkali amat penting dalam menentukan posisi keduanya. Demikian pula jenis-jenis hubungan yang dapat berlangsung antara perempuan dan laki-laki akan merupakan konsekuensi dan pendefinisian perilaku gender yang semestinya dilakukan oleh masyarakat. 4

C. Gender Lintas Kultural

Sturktur sosial masyarakat yang membagi-bagi antara laki-laki dan perempuan sering kali merugikan perempuan. Perempuan diharapakan dapat mengurus dan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga, walaupun mereka bekerja di luar rumah tangga, sebaliknya, tanggung jawab laki-laki dalam rumah tangga sangat kecil. Ada batasan tentang hal yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh laki-laki ataupun perempuan dalam menjalankan tugas-tugas rumah tangga. Perempuan kurang dapat mengembangkan diri karena adanya pembagian tugas tersebut.

Dalam setiap masyarakat, peran laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan berdasarkan komunitas, status, maupun kekuasaan mereka. Perbedaan perkembangan peran gender dalam masyarakat disebabkan oleh berbagai factor, mulai dari lingkungan alam, hingga cerita dan mitos-mitos yang digunakan untuk memecahkan teka-teki perbedaan jenis kelamin.

Dalam masyarakat terdapat bermacam-macam kerja yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Pembagian kerja tersebut berdasarkan gender. Misalnya, di dalam masyarakat primitive, menurut antropolog Ernestine Friedl, perempuan lebih penting dari pada laki-laki Pada masyarakat primitive, ketika manusia hidup mengembara dalam kelompok kecil, bahaya yang paling ditakuti adalah musnahnya kelompok yang disebabkan matinya anggota kelompok. Karena itu jumlahnya harus diperbesar dengan cara memperbanyak lahirnya bayi-bayi. Sedangkan tugas pergi ke medan perang dan berburu dilakukan oleh laki-laki karena pekerjaan tersebut membahaykan nyawa.

Sedangkan di masayarakat Mbuti di Afrika dan masyarakat Bali, memiliki peran gender yang tumpang tindih. Di kalangan orang kerdil, dalam berburu dan dalam pengasuhan anak dilibatkan laki-laki dan perempuan. Sementara norma di kalangan orang Ambara ialah ayah jarang menyentuh anak-anaknya selama 2 tahun pertama, dan setelah 2 tahun pertama mengharapakan kepatuhan sepenuhnya dari anak-anaknya. 5

D. Feminisme

Perbedaan pokok antara kaum femini terdahulu dengan sekarang adalah bahwa, dahulu perjuangan dilakukan demi hak-hak demokrasi perempuan, meliputi hak atas pendidikan, pekerjaan, hak pemilikan, hak pilih, hak menjadi anggota parlemen, hak atas pengaturan kelahiran, hak atas perceraian dan sebagainya.

Kini, kaum feminis berusaha lebih jauh dari sekedar menuntuk perbaikan hokum untuk mengakhiri diskriminasi. Mereka bekerja untuk mewujudkan emansipasi perempuan. Oleh karena itu, Feminisme masa kini meliputi perjuangan menentang subordinasi perempuan terhadap laki-laki di lingkungan rumah tangga mereka, melawan pemerasan oleh keluarga, menentang status yang terus menerus rendah di tempat kerja, dalam masyarakat, dalam budaya, serta dalam agama di negerinya. Dengan demikian, pada hakikatnya feminism masa kini adalah perjuangan untuk mencapai kesederajatan/kesetaraan, harkat, serta kebebasan perempuan untuk memilih dalam mengelola kehidupan dan tubuhnya, baik di dalam maupun di luar rumah tangga.

1. Feminisme Sosialis

Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme". Feminisme sosialis adalah gerakan untuk membebaskan para perempuan melalui perubahan struktur patriarkat, yaitu perjuangan untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.


2. Feminisme Radikal

Feminisme radikal berpendapat bahwa ketidakadilan gender bersumber dari perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan itu sendiri. Feminis radikal cenderung membenci makhluk laki-laki sebagai individu maupun kolektif dan mengajak perempuan untuk mandiri. Bahkan tanpa perlu keberadaan laki-laki dalam kehidupan mereka.Apa saja yang berkaitan dengan makhluk laki-laki adalah pasti negative dan menindas, karenanya perlu di jauhi.

3. Feminisme Liberal

Menurut feminis liberal bahwa setiap laki-laki ataupun perempuan mempunyai hak mengembangkan kemampuan dan rasionalitasnya secara optimal, tidak ada lembaga atau individu yang membatasi hak itu, sedangkan Negara diharapkan hanya untuk menjamin agar hak tersebut terlaksana.

E. Gender di Indonesia

Bagi bangsa ini, sudah saatnya mengkaji secara bijak gerakan emansipasi. Dengan istilah lain, saatnya gerakan gender kita kembali ke khitah sebagaimana diperjuangkan Kartini dahulu. Perlu digarisbawahi bahwa gender yang diperjuangkan Kartini, berbeda jauh dengan feminisme di Barat. Meski harus kita akui semangatnya memang dari sana. Bagi Kartini, gerakan emansipasi bukan sekadar mendudukkan kaum wanita pada posisi dan jabatan-jabatan strategis kenegaraan, akan tetapi bagaimana menyadarkan kaumnya akan jati diri, hak-hak dan perannya sebagaimana kaum pria.
Selain itu, gerakan emansipasi yang digawangi Kartini memiliki visi, misi dan orientasi yang jelas, yakni mencerdaskan kaum wanita dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi luhur adat masyarakat Jawa. Tentu saja adat Jawa dimaksud bukan yang menindas apalagi mengajarkan kesenjangan antara pria dan wanita. Gender yang diperjuangkan Kartini juga bukan yang melenceng dari norma-norma agama. Pendek kata, gerakan emansipasi tidak keluar dari rel dan tidak kebablasan.
Tidak dibenarkan pula kaum wanita mengabaikan perannya dalam keluarga, demi mengejar kesetaraan itu.

Artinya, kaum wanita bersama kaum pria harus tetap bahu membahu menata rumah tangga, dan mendidik putra-putri mereka dengan baik. Peran yang sama antara wanita dan pria, harus dimanfaatkan pada hal-hal yang positif, misalnya dengan kompromi pemikiran untuk usaha mengentaskan kemiskinan, mencerdaskan bangsa, dan menciptakan.lapangan.kerja.baru.6

F. Gender dalam Perspektif Islam

Berbicara tentang konsep gender dalam Islam sejumlah ayat dalam Al-Quran Q.S Al- Hujarat [49]:13, An-Nisa [4]:21, Al-A’raf [7]:187, Al-Zumar [39]:6, Fatir [35]:11, Al- Mukmin [40]:67 menegaskan bahwa dari :

  • Segi hakekat penciptaan, antara manusia satu dan manusia lainnya tidak ada perbedaan termasuk di dalamnya antara perempuan dan laki-laki. Karena itu, tidak perlu ada semacam superioritas suatu golongan, suku, bangsa, ras atau entitas gender terhadap lainnya. Kesamaan asal mula biologis ini mengindikasikan adanya persamaan antara sesama manusia, termasuk persamaan antara perempuan dan laki-laki.
  • Dari perspektif amal perbuatan keduanya dijanjikan akan mendapat pahala apabila mengerjakan yang ma’ruf dan diancam dengan siksaan jika berbuat yang mungkar (An-Nisa’ [4]:24 dll. Sebagai manusia, perempuan memiliki hak dan kewajiban ibadah sama dengan laki-laki. Perempuan juga diakui memiliki hak dan kewajiban untuk meningkatkan kualitas dirinya melalui peningkatan ilmu dan takwa.

Pada tatanan praktis islam memberikan aturan yang lebih rinci berkaitan dengan peran dan fungsi masing-masing dalam menjalani hidup ini, dimana ada kalanya sama dan ada kalanya peran dan fungsi tersebut berbeda antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi perbedaan ataupun persamaan ini tidak bisa dinilai dengan adanya ketidakadilan atau ketidaksetaraan gender. Dalam Islam, semata-mata merupakan pembagian tugas yang sama-sama penting dalam upaya mewujudkan tujuan tertinggi dalam kehidupan di masyarakat tentunya dengan adanya keridlaan Allah semata Allah SWT semata.


DAFTAR PUSTAKA

Djamil, Abdul. 2002. Bias Jender Dalam Pemahaman islam. Yogyakarta: Gama Media

Istibsyaroh. 2004. Hak-Hak Perempuan. Jakarta: Teraju

http://pmiiliga.wordpress.com/2006/10/09/nikmatus-sholihah-gender-dan-jenis-kelamin/

http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme

http://www.harianjoglosemar.com/berita/gerakan-gender-di-simpang-jalan-41499.html


Read more..

MANUSIA DAN KEBAHAGIAAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebahagiaan hidup merupakan sesuatu yang pasti dan menjadi cita – cita semua orang dalam hidupnya. Baik kebahagiaan di dalam berhasil menjalankan tugas dan kewajiban yang baik serta benar maupun keberhasilan dalam menghindari penderitaan. Bahagia dan tidaknya seseorang bisa berangkat dari mampu dan tidaknya orang tersebut memenuhi kebutuhan keinginannya (dalam bentuk positif), berangkat dari kata hatinya yang tulus dan murni.

Bila pemenuhannya bersifat negatif yang sebenarnya bukan kebahagiaan, maka dibalik pemenuhan itu masih terdapat keganjilan yang tidak bisa diterima oleh kata hatinya bahkan hanya bersifat sementara. Karena itu orang yg bahagia ialah orang yang bisa menerima kenyataan hidupnya, bisa menerima segala yang ada pada dirinya. Akan tetapi tetap percaya bahwa dibaik kepahitan pasti ada kesejahteraan yang lebih lama seperti orang minum obat, pahit dikala minumnya tetapi setelah minum hadir kesehatan yang lebih lama dari pahitnya rasa.

B. Rumusan Masalah

Pada pembahasan makalah yang berjudul “Kebahagiaan Manusia” ini, pemakalah mencoba mengidentifikasi masalah – masalah yang ada agar dalam pembahasan dalam makalah ini lebih mudah. Berikut rumusan masalah yang pemakalah angkat dalam pembahasan makalah ini :

1. Makna kebahagiaan

2. Tahapan – tahapan bahagia

3. Sumber kebahagiaan

4. Sebab – sebab umum penghalang bahagia

BAB II

PEMBAHASAN

A. Makna Kebahagiaan

Semua manusia mendambakan kebahagiaan dalam kehidupan. Kalau bisa kebahagiaan dirasakan baik di waktu siang maupun malam, dalam rumah maupun di kantor. Namun tidak semua perjalanan manusia mencari kebahagiaan menemukan jalan dan cara – cara yang benar untuk meraihnya. Dalam islam, pusat segala kebahagiaan adalah saat seseorang bertemu dengan Sang Khaliq. Tentu bukan dengan makna bahwa kita harus mati terlebih dahulu. Memang, ujung dari perjalanan kehidupan akan seperti itu. Tapi bukankah kebahagiaan itu kita dambakan juga di dunia? Lalu bagaimana caranya? Berapa banyak jalan yang harus ditempuh dan dibutuhkan untuk menuju kepada Allah? Sebanyak yang dituntun di dalam dua pedoman dasar hidup kita yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jalan – jalan itu tersimpul di dalam sebuah istilah yang cukup populer, singkat tetapi mencakup segala-galanya yaitu takwa.

Kata takwa bermakna menjauh, menghindar. Yang dihindari atau dijauhi sudah tentu bukan Allah, melainkan segala jalan yang dapat mengantar kepada kemurkaan Allah. Jika sudah ada kesadaran untuk menjauhkan diri dari yang dilarang dan dimurkai, yang ada hanya satu pilihan yaitu mengerjakan segala yang diperintah. Oleh karena itu, jumhur (mayoritas) ulama mendefinisikan takwa yakni upaya maksimal melaksanakan perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Ini adalah prestasi moral yang paling tinggi. Oleh karena itu, Allah memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada mereka yang secara konsisten dan konsekuen menjalankannya.1 Allah Menjelaskan,

“Sesungguhnya orang – orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa di antara kamu.” (Q.S.Al-Hujurat: 13) 2


B. Tahapan – Tahapan Bahagia

Sejak zaman dahulu hingga sekarang atau bahkan sampai nanti setiap orang selalu berkata “Saya ingin hidup bahagia”. Tapi mereka sendiri tidak tahu tentang sesuatu yang dikatakannya, sesuati yang menjadi tujuan dalam hidupnya dan sesuatu yang sebenarnya ada dalam mereka sendiri. Bahagia memang relatif, hingga wajarlah jika para ahli piker selalu berbeda mendefinisikan dan memberi batasan tentang bahagia. Ada yang mengatkan bahwa bahagia itu identik dengan kesenangan dan kepuasan. Ada yang berpendapat tidak sama. Menurut hemat kita bahagia tidak selalu identik dengan kepuasan dan kesenangan. Karena kepuasan dilakukan atau dialamioleh seseorang tidak berangkat dari kata hati yang tulus akan tetapi berdasarkan nafsu. Atau dengan kata lain sebelum mereka merasakan kepuasan, mereka didahului dengan perbuatan yang disukai oleh nafsu saja sebagai pelampiasan rasa cemas. Berikut tahapan – tahapan bahagia : 3

1. Kelezatan dalam hidup

Tahapan kebahagiaan yang pertama ini ialah golongan manusia yang hanya merasakan dan merasakan lezatnya hidup. Dalam hal ini perlu dijelaskan kemestian-kemestian yang pasti terjadi dan dialami oleh setiap orang yaitu makan dan makanan. Tanpa makan orang akan mati, lemas, tidak sehat, pikiran pun sulit dikendalikan. Masalah ini adalah sangat prinsip dan tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia.

2. Perasaan hati

Salah satu penyebab seseorang merasa miskin, rendah, tidak diperhatikan orang lain, dikucilkan dari segala bentuk pergaulan ialah perasaan hati atau perasaan kita sendiri yang menyebabkannya. Akhirnya langkahnya tersendat, cita-citanya terhambat, kebutuhannya tidak terpenuhi dan sebagainya. Kalau perasaan semacam itu hilang maka tidak mustahil gairah akan bangkit, semangat hidup timbul, kekuatan tersusun, keberanian kembali ada di dalam menghadapi segala tantangan hidup yang ada di depannya.

3. Pemenuhan berumah tangga

Wajar bila manusia dalam hidupnya mempunya kecenderungan untuk hidup berumah tangga. Selain hal itu merupakan tuntutan kebutuhan juga karena kita terlahir di kalangan orang yang hidup berumah tangga. Ada sementara orang yang mengatakan “Seseorang belum sempurna hidupnya bila belum berumah tangga”. Rumah tangga adalah pusat kesenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Tapi sekarang tidak sedikit orang yang sudah berumah tangga malah menjadi kacau balau.

4. Mata Penghidupan

Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak hidup menganggur berpangku tangan mengharapkan jatuhnya bintang dari langit. Juga melarang umatnya hanya semata-mata bekerja mengejar dunia sampai berkelebihan tidak tahu waktu hingga melupakan akhiratnya. Jalan yang terbaik yang ditempuh islam adalah hidup penuh keseimbangan antara dunia dan akhirat, di satu sisi kita mengerjakan urusan dunia karena kita hidup di dunia harus bekerja di sisi lain kita mengerjakan untuk akhiratnya karena pada akhirnya kita nanti.

5. Tercapainya jihad (perjuangan)

Hidup perlu perjuangan dan perjuangan untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Perjuangan sangat kuat sekali bagi seseorang yang kurang memiliki potensi hidup untuk kesejahteraan hari ini dan hari esok. Perjuangan merupakan potensi jiwa dan juga insting manusia untuk mempertahankan dirinya, perjuangan hidup lebih kuat berada di Negara barat atau Negara-negara maju yang persaingan hidup semakin ketat.

6. Hilangnya masalah yang memberatkan hati

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia sejak Nabi Adam sampai nanti manusia yang paling akhir selama ia masih hidup, baik secara fisik maupun nonfisik bahkan sampai matipun manusia tetap bermasalah. Ada yang mengatakan amasalah itu adalah “Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang terdapat dalam diri manusia yang perlu jalan keluar penyelesaiannya’ karena dapat menghambat datangnya bahagia.

C. Sumber Kebahagiaan

Beragam sumber kebahagian dapat diperoleh. Ia dapat diraih dan dirasakan kapan dan dimana saja karena ia tidak mengenal ruang dan waktu. Secara mutlak ia bersumber dari Allah. Allah-lah yang memancarkan cahaya kebahagiaan itu ke seluruh penjuru alam. Oleh karena itu, ia tidak hanya dirasakan oleh manusia saja tetapi oleh seluruh makhluk Allah di muka bumi. Kita dapat memperoleh sumber-sumber kebahagiaan bagi manusia melalui pendapat yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali, antara lain : 4

1. Akal Budi

a. Sempurna Akal

Kesempurnaan akal harus dengan ilmu. Ilmu yang membuat manusia dapat memahami sesuatu. Ilmu yang member kemudahan teknis bagi manusia untuk mengekspresikan nilai-nilai keimanannya. Bahkan, sebuah ibadah kalau tidak diiringi dengan ilmu, ibadah tersebut diragukan kualitasnya

b. Iffah (Menjaga Kehormatan Diri)

Orang yang berupaya terus-menerus dengan sungguh-sungguh untuk memelihara kesucian hati sehingga tetap tegar dalam menghadapi ujian dan kesulitan-kesulitan hidup. Ia mencoba meraihnya dengan mengawalinya bersikap wara’ dan tawadhu. Dari situ,terbuka tabir-tabir yang menuntun dirinya kea rah sikap dan perbuatan yang diridhai oleh Allah swt. Kebahagiaan hati akan terasa kalau hidup kita diridhai oleh-Nya.

c. Syaja’ah (Berani)

Keberanian dalam menegakkan kebaikan dan menyingkirkan keburukan dengan berbagai resiko dan konsekuensinya. Selain itu, berani mengakui kesalahan diri sendiri dan berani mengakui kelebihan orang lain. Artinya, keberanian bukan ditunjukan pada saat melakukan pelanggaran, seperti membunuh orang lain tanpa hak, berzina, berjudi, berdusta, korupsi, dan lain-lain.

d. Al-‘Adl (Keadilan)

Keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempa dan porsinya. Keserasian dan keteraturan dalam memperlakukan sesuatu dapat menghadirkan kebahagiaan.

2. Tubuh (Jasmani)

Manusia akan merasakan kebahagiaan jika tubuhnya sehat yakni baik secara fisik maupun psikis, memiliki kekuatan fisik dan ketahanan mental. Memiliki fisik yang gagah dan cantik serta mendapatkan anugerah umur panjang. Sungguh sangat beruntung orang yang sudah diberikan anugerah tubuh yang sempurna lalu disyukurinya dengan mendekatkan diri kepada Allah.

3. Luar Badan

Yakni sesuatu yang dapat mendatangkan kebahagiaan yang diraih berdasarkan usaha manusia.

a. Kekayaan atau Harta Benda

Kekayaan boleh jadi menjadi sumber kebahagiaan kalau ia digunakan sesuai dengan kehendak Yang Memberi Kekayaan. Namun dapat mendatangkan penderitaan hidup jika ia diarahkan untuk menentang kemauan Allah swt.

b. Keluarga

Silaturrahim yang hidup dan hubungan yang tetap terjalin akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Misalnya saat semua keluarga berkumpul.

c. Popularitas

Menjadi orang yang terpandang dan terhormat dapat menjadi sumber kebahagiaan selama tidak tersentuh riya dan sum’ah. Yang diharapkan dari kepopuleran dirinya memancarkan sikap dan perilaku hidup yang baik untuk diteladani oleh orang banyak. Dengan banyaknya orang yang meneladani, dengan sendirinya akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri.

4. Taufik dan Bimbingan Allah

Taufik adalah bertemunya kemauan Allah dengan kemauan manusia. Pengakuan adanya taufik sangat penting agar manusia dapat menyadari bahwa setiap keberhasilan bukan hasilnya semata-mata tetapi karena adanya campur tangan Allah di balik itu. Taufik dan bimbingan allah terdiri dari empat unsure, yaitu:

a. Hidayah (petunjuk Allah)

Ia terdiri dari 3 macam, yaitu:

1) Memahami jalan yang baik dan yang buruk

2) Bertambahnya ilmu dan pengalaman

3) Ada hidayah yang merupakan cahaya yang khusus dipancarkan kepada para nabi dan rasul kesayangan-Nya.

b. Irsyad (Bimbingan Allah)

Ia merupakan pertolongan Allah terhadap manusia sehingga yang bersangkutan dapat selamat dari perilaku hidup yang negative dan terpenuhi kemauannya oleh Allah untuk terus berada di jalan yang lurus.

c. Tasdid (Dukungan Allah)

Mantap kemauan untuk terus berusaha dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Perbedaan dengan irsyad terletak pada metodologinya. Jika irsyad memerlukan suatu peringatan dan pengetahuan sedangkan tasdid memerluka pertolongan gerak badan atau amal prestatif.

d. Ta’yid (Bantuan Allah)

Ia merupakan kekuatan yang lahir dari tajamnya mata batin dan kerasnya kemauan. Dengan kata lain, Allah senantiasa membantu hamba-Nya ketika ia mengalami kebingungan hati dan keresahan jiwa.

5. Bahagia Akhirat

Kebahagiaan akhirat merupakan titik kebahagiaan terakhir yakni ketika kehidupan manusia di dunia berganti dengan kehidupan akhirat. Dalam menjalankan kehidupan di sana yang menjadi parameternya bukan harta kekayaan, pangkat dan jabatan yang tinggi, atau pun ketenaran tetapi keseluruhan yang amal yang mendatangkan keridhan Allah swt.

D. Sebab – Sebab Umum Penghalang Bahagia5

a. Perceraian

Langgeng dan berlangsungnya kehidupan rumah tangga merupakan suatu harapan dan tujuan akhir dari sebuah pernukahan yang didukung oleh Islam. Namun tidak semudah kita membalikan telapak tangan untuk mencapainya. Bila ketegaran sudah mulai goyah maka timbulah masalah-masalah yang berat dalam tubuh keluarga itu, lama-kelamaan semakin parah, meruncing hingga tidak ada lagi kedamaian dan kebahagiaan di dalamnya yang akhirnya mengantarkan kepada perceraian.

b. Kemiskinan

Ketika seseorang tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan dalam hidupnya dapat menjadi penghalang untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.

c. Kejahatan

Kejahatan dapat terjadi karena pelanggaran norma-norma hokum dan budaya sebagai pelampias rasa kesal atau tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapi. Atau dapat juga dikarenakan seseorang mengalami penderitaan hidup, tekanan-tekanan batin yang tidak saja timbul dari dalam dirinya akan tetapi dari luar dirinya, seperti teman kerja bergaul, teman sekantor, perusahaan dan sebagainya.

d. Perang

Peperangan adalah problem sosial yang sulit untuk dipecahkan dari pada problem sosial yang lain. Sering dikatakan bahwa peperangan untuk menciptakan perdamaian, tapi anehnya untuk tujuan damai malah tidak aman bahkan sering diwarnai dengan pertumpahan darah yang tidak sedikit memakan sejumlah korban jiwa

e. Pelanggaran Terhadap Norma Susila

Pelanggaran norma susila, seperti pelacuran dapat mengganggu atau berpengaruh negatif terhadap moralitas atau kepribadia sesorang. Kenakalan remaja juga merupakan pelanggaran terhadap norma dapat menimbulkan keresahan pada kedua orang tua pada khususnya dan masyarkat pada umumnya.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tidak ada satupun manusia yang tidak ingin hidup bahagia. Namun tidak semua perjalanan manusia mencari kebahagiaan menemukan jalan dan cara – cara yang benar untuk meraihnya. Beragam sumber kebahagian dapat diperoleh. Ia dapat diraih dan dirasakan kapan dan dimana saja karena ia tidak mengenal ruang dan waktu. Secara mutlak ia bersumber dari Allah.

Kebahagiaan tidak selalu identik dengan kepuasan dan kesenangan. Karena kepuasan dilakukan atau dialami oleh seseorang yang tidak berangkat dari kata hati yang tulus akan tetapi berdasarkan nafsu. Allah-lah yang menciptakan kita, sudah pasti Allah Maha Mengetahui segala kebutuhan kita. Maka manakala kita ingin kebahagiaan dalam hidup, seyogyanya kita kembali kepada segala apa yang Allah perintahkan kepada kita, karena semua yang Allah perintahkan kepada kita pada hakikatnya adalah membawa kebaikan dan kemaslahatan untuk kita yang pasti akan membawa kebahagiaan untuk kita, kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.

DAFTAR PUSTAKA

Depag RI. 1996. Al-Qur’an Al-Karim Dan Terjemahnya. Semarang: Karya Toha Putra.

Sanusi, Anwar. 2006. Jalan Kebahagiaan. Jakarta: Gema Insani.

Mansor, Ansory. 1997. Jalan Kebahagiaan Yang Diridhai. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Haddad, Abdullah. 1998. Thariqah Menuju Kebahagiaan. Bandung: Mizan

Read more..
VISITS
free counter

RENUNGKAN

Andaikan hidupmu kau gunakan hanya untuk menghiasi dan mendandani RAGAmu saja, sedangkan kau tak menghiasi HATImu dengan AKHLAK, maka hakikatnya hidupmu hanya untuk memberi makan ulat dan cacing yang akan memangsamu kelak di LIANG LAHAT…….Tausiyah AL-Habib Umar bin Hafidz

harunyahya.tv

harunyahya.tv
Samudra kedahsyatan rahasia penciptaan Allah Ta'ala, oleh HARUN YAHYA setetes dari samudra rahasia penciptaan Allah terungkap dalam video dokumenter.
.

Kemanakah perubahan Bumi tercinta kita ini, ke arah yang lebih indahkah untuk anak cucu kita kelak, ataukah sebaliknya. KITALAH YANG MENENTUKAN SAAT INI

Hijaukan bumi kita untuk keteduhan dan keindahan alam hidup anak cucu kita kelak

News