Menjadi Guru "WOW"

Guru, digugu dan ditiru. Kedua kata tesebut sudah cukup untuk mewakili akan peran dan fungsi guru, baik di lembaga pendidikan maupun di tengah-tengah masyarakat. Namun pertanyaannya guru yang bagaimana yang patut digugu dan ditiru. Regulasi yang ditetapkan pemerintah dalam mengatur segala hal tentang profesi guru diwujudakan dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen serta PP No. 74 Tahun 2008 tentang guru. Selain dua hal tersebut juga ada yang namanya kode etik guru guna mejaga guru agar bekerja sesuai dengan peraturan yang ada.
Namun pada pembahasan kali ini, saya akan menanggalkan peraturan-peraturan sebagaimana yang saya sebutkan di atas dalam menganalisis kriteria guru “wow” karena teman-teman pasti sudah tahu kriteria bagaimana dan kualifikasinya apa saja serta kompetensi apa saja yang harus dimiliki untuk menjadi guru yang baik. Tetapi bukan berarti saya menafikkan peraturan-peraturan tersebut, hanya saja pada coretan saya kali ini tentang guru ”wow” tidak membahasnya dari peratura-peraturan tersebut.
Pertama kita satukan dulu pemikiran kita akan makna guru “wow”. Alasan saya kenapa memakai kata “wow” karena saat ini kata tersebut lagi tren-trennya digunakan oleh masyarakat terutama kalangan remaja sehingga diharapkan banyak yang tertarik untuk membaca coretan saya ini...hehehe (ngarep). Kata “wow” biasanya digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang membuat orang takjub, bangga, dan kagum. Maka jika kita sandingkan kata “wow” dengan kata “guru” maka itu artinya guru tersebut adalah guru yang membanggakan, menakjubkan dan mengagumkan. Lalu guru seperti apa yang membanggakan, menakjubkan dan mengagumkan? Jawaban dari pertanyaan itulah yang akan saya coba analisis dan mudah-mudahan saja dapat memberi masukan buat teman-teman yang ngebet ingin jadi guru.
Kalau kita bertanya siapa guru yang paling paling dan paling “wow” sedunia akhirat dan sepanjang sejarah manusia dari mulai manusia pertama Nabiyullah Adam as ampai manusia terakhir yang hidup di muka bumi, maka jawabannya adalah siapa lagi kalau bukan junjungan kita Nabi Muhammad saw. Kenapa harus Nabi Muhammad saw yang jadi guru paling paling dan paling “wow” sedunia akhirat? Kita semua tahu bagaimana keadaan kaum sebelum beliau diutus menjadi rasul. Kaum yang penuh dengan kebiadaban moral dan akhlak, tidak ada yang mengenal Allah, mereka hanya tahu latta, uzza, manna dan berhala-berhala lain yang patut mereka sembah. Nasib wanita pada saat itu sunguh-sunguh sangat mengenaskan, wanita hanya dijadikan pelampiasan nafsu para lelaki, seringkali wanita dijadikan barang taruhan dalam perjudian, bahkan yang tak kalah kejamnya adalah jika seorang ibu melahirkan anak perempuan maka bayi malang tersebut akan dikubur hidup-hidup karena melahirkan anak perempuan dianggapnya sebagai aib. Belum lagi kebodohan-kebodohan lain yang menjadi kebiasaan kaum pada zaman jahiliyah tersebut. Namun setelah diangkatnya Sang Penerang dunia akhirat Sayyidina Muhammad saw menjadi rasul, beliau berhasil menjadikan keadaan kaum yang dulunya begitu suram tersebut berbalik 1800 penuh menjadi kaum yang beradab, berakhlak tinggi, penyembah Allah yang setia dan begitu juga nasib wanita yang terangkat derajatnya. Belum lagi jika dilihat dari metode yang beliau terapkan dalam membina umat dan juga risalahnya yang tidak hanya berlaku pada saat beliau hidup saja, namun berlaku dan sesuai dengan perkembangan zaman sampai hari akhir dan berlaku untuk seluruh umat manusia. Maka sangatlah tepat jika Michael H. Hart  menempatkan Nabi Muhammad saw pada urutan pertama dari daftar 100 tokoh pualing berpengarug sepanjang sejarah hidup manusia. Bagaimana, sudah sepakat kan kalau Nabi Muhammad saw adalah guru umat manusia paling paling dan paling “wow” sedunia akhirat? Maka sudah seharusnya kita (bagi yang ngebet jadi guru) untuk mempelajari dan menerapkan gaya Rasulullah dalam mendidik, membimbing dan membina umat.
Kunci pertama kesuksesan Rasulullah saw dalam membina umat adalah dengan keteladanan. Beliau merupakan sumber dari segala keteladanan. Tiada satupun dalam sejarah hidupnya yang tidak bisa diteladani. Salah satu keteladanan yang dicontohkan beliau yakni saat beliau mencari ranting batang siwak bersama seorang sahabat, ketika menemukannya kemudia beliau menjadikan batang siwak tersebut menjadi 2, batang yang satu lurus namun batang yang satunya lagi bengkok. Kemudian beliau memberikan batang siwak yang lurus kepada sahabatnya, lalu sahabat berkata “Ya Rasul, batang yang lurus buat Rasul”. Apa jawab Rasul? Rasul menjawab “Tidak ya sahabat, batang yang lurus buat kamu sebab nanti di akhirat kelak akan ditanyakan sudahkah kamu berbuat baik kepada sahabatmu?”. Dalam hal kecil seperti itu saja beliau sangat hati-hati dalam mengajarkan kepada para muridnya agar para muridnya benar-benar menghayati dan action susai yang dicontohkan. Model mengajar dengan keteladanan Rasulullah saw sangat diapresiatif sekali oleh semua umat manusia. Bahkan lawan-lawan beliau dalam dakwahpun mengakui keteladanannya. Model pengajaran Rasulullah saw sangat sukses membuka tabir-tabir keilmuan sehingga dapat menciptakan manusia super pintar seperti sahabat Ali ra.
Gaya mengajar Rasulullah saw yang biasa kita sebut dengan nama dakwah bil hal atau dakwah dengan perbuatan menjadi kunci kedua kesuksesan beliau dalam membangun umat yang berberadaban. Ketika Sayyidatul Fatimah ditanya seseorang, ”Ya Fatimah, bagaimana akhlak Rasulullah?” Fatimah menjawab,”Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an”. Segala isi yang ada dalam Al-Qur’an telah dicontohkan atau dilakukan oleh Rasulullah saw maka dari itu Rasulullah disebut sebagai Al-Qur’an berjalan. Dalam mendidik Rasulullah tidak berkutit hanya dengan teori, namun juga langsung dipraktekan.
Gaya mengajar Rasulullah saw yang lain adalah tidak terburu-buru dalam menyampaikan materi ajaran. Beliau memberikan pelajaran secara bertahap-tahap, mulai dari hal yang paling mudah sampai ke hal yang paling sulit. Kita tentunya masih ingat bagaimana Rasulullah saw secara bertahap dalam mengharamkan minuman keras. Pada proses awal beliau tidak langsung secara tegas mengharamkan minuman keras namun hanya melarang para sahabat yang sedang dalam keadaan minum minuman keras untuk mendekati masjid dan melaksanakan sholat. Setelah itu beliau memberikan batasan-batasan lagi sampai empat kali. Khusus yang terakhir dimana keadaan sahabat sudah siap menerima secara tegas keharaman minuman keras karena keimanan dan ketakwaannya yang sudah begitu tinggi, maka Rasulullah secara tegas mengharamkan minuman keras beserta semua orang yang terlibat di dalamnya mulai dari produksi, distribusi, yang mendagangkan, menghidangkan, sampai yang meminumnya. Hal serupa beliau terapkan juga dalam riba. Metode secara bertahap dalam menyampaikan pembelajaran perlu kita terapkan dalam pendidikan agar semua peserta didik mampu menyerap semua yang disajikan oleh guru sesuai dengan perkembangan dirinya.
Dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan oleh muridnya, beliau tidak menghadapinya dengan kemarahan apalagi cacian, beliau juga tidak memandang bentuk kesalah yang dilakukan muridnya. Namun yang beliau lakukan dalam menyikapi kesalah yang dilakukan muridnya adalah dengan mencari tahu penyebab muridnya melakukan kesalahan yang kemudian diberikan solusinya untuk memperbaiki diri dari kesalahannya itu. Dengan sikap bijak seperti itu tidak akan membuat murid yang sudah melakukan kesalahan mendapatkan tekanan batin yang akhirnya dirinya merasa dikucilkan. Bijaknya Rasulullah dalam menghadapi kesalahan dari muridnya, salah satu contohnya yaitu kejadian dimana seorang lelaki yang datang menghadap beliau kemudian lelaki tersbut berkata,” “Wahai Rasulullah, aku telah binasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apa yang membinasakanmu?” Orang itu menjawab: “Aku telah menggauli (berjima’-pen) istriku di siang Ramadhan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menyatakan: “Mampukah engkau untuk memerdekakan budak?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian kata beliau: “Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian kata beliau: “Mampukah engkau memberi makan enampuluh orang miskin?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian iapun duduk dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi satu wadah kurma (sebanyak enam puluh mudd-pen) dan beliau berkata: “Shadaqahkan ini.” Orang itu bertanya: “Kepada yang lebih fakir dari kami? Sungguh di kota Madinah ini tiada yang lebih membutuhkan kurma ini dari kami.” Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Pulanglah dan berikan ini kepada keluargamu.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam Kutubus Sittah selain An-Nasai (Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) dari jalan Az-Zuhri Muhamad bin Muslim dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah z.
Dari hadits di atas menggambarkan bagaimana besarnya kearifan dan kebijaksanaan Baginda Rasulullah saw dalam menyikapi kesalahan muridnya. Metode seperti itu urgen sekali untuk kita terapkan dalam proses pendidikan di zaman yang begitu kompleks saat ini. Saat ini banyak terjadi tawuran antar pelajar, pelajar pesta seks, pesta narkoba, miras dan kasus terkini yang terjadi adalah tragedi pemerkosaan yang di alami siswi SMP di salah satu sekolah di Depok, dimana siswi tersebut di tolak oleh pihak kepala yayasan untuk terus bersekolah di sekolahan tersebut dengan alasan pihak yayasan tidak ingin sekolahnya tercemar nama baiknya karena tragedi yang menimpa siswi tersebut. Siswi tersebut adalah korban pemerkosaan, namun musibah yang dialami siswi tersebut tidak berhenti di situ, ditambah musibah dikeluarkannya siswi tersebut dari sekolah, ini menyebabkan siswi tersebut mengalami tekanan moral yang bertubi-tubi. Seharusnya yang dilakukan sekolah adalah dengan mendekati dia dengan kasih sayang untuk menghilangkan traumanya dan mampu bangkit lagi semangatnya untuk menjalani kehidupan yang seperti biasanya. Dalam menyikapi kasus-kasus kenakalan para pelajar, guru tidak seharusnya menjustifikasikan kesalahan sepenuhnya pada siswa. Guru tidak hanya mengintrogasi siswa, namun yang tak kalah pentingnya adalah mengintrogasi dirinya sendiri. Kekurangan apa yang ada pada dirinya dalam mendidik para siswa sehingga siswa tidak menyerap nilai-nilai yang terkandung dalam materi pembelajaran. Dengan langkah seperti itu tentu guru akan semakin meningkatkan kualitas dalam mendidik siswa agar benar-benar dapat membentuk siswa yang memiliki akhlak yang luhur. Dan selanjutnya adalah guru melakukan segala hal yang dapat memperbaiki siswa dari perbuatan-perbuatan yang tercela.
Memang benar, Rasulullah saw adalah manusia yang dilindungi Allah dari segala kesalahan dan dosa, tentu kita tidak akan mampu menjadi sama persis dengan beliau. Namun segala apa yang beliau sampaikan dan contohkan adalah sebagai petunjuk umat manusia dalam mengarungi kehidupan, jadi setidaknya kita berusaha mencontoh apa-apa yang telah dicontohkan oleh beliau walaupun tidak sesempurna beliau. Dan jika ada guru yang menerapkan metode-metode Rasulullah dalam mendidik, mengajar, membimbing, dan membina peserta didik, maka kita patut bilang “WOW” untuk guru tersebut.

Read more..

Ki Gede Sebayu Pahlawan Multidimensi

Sejarah berdirinya Kabupaten Tegal tidak dapat terlepas dari peran seorang tokoh yang memiliki jiwa kepahlawanan yang besar, yakni Ke Gede Sebayu. Berawal dari pengembaraannya dalam mencari sebuah hakikat kebenaran dalam hidup, beliau masuk wilayah Tegal bersama rombongannya. Semangat perjuangannya dalam mengembangkan daerah Tegal yang awalnya adalah daerah lapang tanpa pengelolaan yang baik, menjadi daerah yang semakin makmur dan sejahtera. Beliau Mengembangkan potensi daerah Tegal demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Tegal dengan menyalurkan keahliannya di bidang pertanian, pengairan, pertukangan, penenun kain, pandai besi, kemasan, dan guru-guru pengajar agama Islam guna mengangkat harkat dan martabat kehidupan rakyat. Perjuangan Beliau tidak terpaku pada perekonomian rakyat, namun beliau juga memperjuangkan kehidupan rakyat Tegal di bidang keagamaan dan juga dalam pembebasan rakyat Tegal terhadap penjajah. Karena jasa-jasanya tersebut, maka beliau diangkat oleh Panembahan Senopati raja Mataram sebagai pemimpin di daerah Tegal. Keikhlasan dan kegigihan beliau dalam memperjuangkan kehidupan rakyat Tegal  begitu besar dalam mencapai kehidupan yang lebih baik.
Namun sangat disayangkan sekali, semangat perjuang Ki Gede Sebayu dalam membebaskan rakyat Tegal dari penjajahan, kemiskinan, kesengsaraan dan kebodohan tidak lagi dipahami bahkan diketahui oleh para generasi penerus di Kabupaten Tegal. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kesadaran masyarakat Tegal untuk mengetahui sejarah perjuangan beliau dalam membangun Tegal. Dalam pendidikan contohnya,  tidak ada nilai-nilai kepahlawanan beliau yang di ajarkan dari jenjang SD sampai SMA. Hal ini menyebabkan siswa tidak lagi tahu, siapa Ki Gede Sebayu, bagaimana perjuangan Ki Gede Sebayu dalam mengembangkan daerah Tegal, dan nilai-nilai apa saja yang dapat diambil oleh generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan beliau dalam memajukan kehidupan rakyat Tegal, yang tentunya nilai-nilai tersebut dikontekskan dengan situasi dan kondisi pada saat ini. Hal lain yang menyebabkan semakin hilangnya Ki Gede Sebayu dalam kehidupan rakyat Tegal saat ini adalah terhanyutnya para generasi penerus dalam lingkaran kenikmatan canggihnya teknologi. Para pemuda lebih suka bermain PS dan membuka Facebook berjam-jam hanya untuk update status dan memasang foto-foto mereka yang alay-alay. Fenomena ini membuat para pemuda kehilangan rasa respek terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang berguna untuk memajukan daerah Tegal. Secara tidak langsung,  kita tidak menghargai cita-cita Ki Gede Sebayu yang belum tercapai yang seharusnya kita lah yang meneruskannya.
Semangat kepahlawanan Ki Gede Sebayu dalam membangun Kabupaten Tegal haruslah kita serap dan kita implikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Tegal dalam membangun daerahnya. Jika kita telisik lebih dalam, maka kita akan temukan ada tiga semangat beliau yang dapat kita ambil sabagai modal dalam meneruskan cita-cita beliau:
1.     Kesejahteraan Ekonomi
Seperti yang saya sampaikan di awal paragaraf, pada saat Ki Gede Sebayu pertama kali menginjakkan kakinya di tlatah tanah Tegal, daerah Tegal merupakan tanah lapang yang luas dan belum dikelola dengan optimal padahal tanah Tegal memiliki berbagai potensi yang dapat menyejahterakan masyarakat. Berbekal dengan semangat mengangkat kesejahteraan masyarakat, maka beliau membina masyarakat dengan keahlian dalam pertanian. Di bidang lain, beliau membina masyarakat dengan keahlian dalam pertukangan, menenenun kain, dan pandai besi. Kesemuanya itu beliau lakukan tanpa pamrih dengan tujuan mengangkat harkat hidup rakyat Tegal.
Semangat tanpa pamrih beliau dalam meningkatkan perekonomian rakyat harus dimiliki oleh segenap masyarakat daerah Tegal khususnya para pejabat agar dapat menciptkan masyarakat Tegal yang sejahtera ekonominya. Dengan memegang teguh semangat tersebut, maka para pejabat akan menjalankan wewenangnya hanya untuk kepenting kesejahteraan rakayat, bukan untuk kepenting kesejahteraan perutnya sendiri. Karakter inilah yang harus dimiliki oleh para pejabat aga tidak melakukan praktek korupsi yang mengakibatkan kesejahteraan rakyat terhambat.
2.     Kehidupan Sosial
Ki Gede Sebayu sangat menyadari akan pentingnya persatuan dan kesatuan kala itu, untuk mengusir penjajah dari tlatah tanah Tegal, maka dengan karismatikannya, beliau menyadarkan akan pentingnya persatuan dalam kehidupan dengan sesama. Saya masih ingat sekali bagaimana ganasnya tragedi bentrok warga antardesa pada awal tahun 2000 yang menimpa antara desa saya, Desa Harjasari Kecamatan Suradadi dengan tetangga desa yakni Desa Karangmalang Kecamat Kedungbanteng yang menewaskan beberapa orang dan menghangsukan ratusan rumah. Dari pengalaman pahit tersebut, maka sangat urgen sekali dalam penanaman semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa demi terciptanya kehidupan yang aman, tentram dan damai. Dengan menyebarkan nilai-nilai semangat kesatuan dan persatuan dalam hidup maka tidak akan pernah lagi terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan seperti contoh tragedi di atas.
3.     Berpegang Teguh pada Agama
Ki Gede Sebayu juga dikenal sebagai salah satu tokoh ulama di daerah Tegal. Perhatian beliau dalam penyebaran nilai-nilai agama begitu tinggi sekali, yang diwujudkan beliau dengan menyediakan para pengajar ilmu-ilmu Agama Islam dan juga dengan mendirikan berbagai padepokan-padepokan Islam dan pondok pesantren. Pendidikan agama sangat dibutuhkan dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang berlandaskan pada nilai-nilai agama. Dengan penanaman nilai-nilai dasar agama, maka seseorang dalam perkembangannya menjadi apapun, maka dia akan menjadikan perannya dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama.
Ketiga semangat tersebut harus direalisasikan oleh segenap komponen masyarakat Tegal dalam membangun daerah Tegal yang damai dan sejahtera. Kemudian pertanyaan kita, bagaimana cara kita untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi penerus khususnya yang tinggal di daerah Tegal?. Salah satu cara yang paling ampuh yakni dengan pendidikan. Pendidikan bukanlah proses yang hanya menyalurkan berbagai pengetahuan, namun yang jauh lebih penting adalah pembentukan nilai atau karakter pada siswa. Pendidikan sebagai proses pendewasaan manusia ke arah yang lebih baik, memiliki perang yang sangat strategis untuk menstransfer nilai-nilai semangat perjuangan Ki Gede Sebayu. Dalam jenjang pendidikan dan mata pelajaran  apapun, harus mengintegrasikan karakter-karakter yang dimiliki oleh Ki Gede Sebayu di dalam proses berlangsungnya pendidikan agar para generasi penerus dapat memahami dan mengaplikasinnya dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun Kabupaten Tegal ke arah yang lebih baik.



Read more..

Membasmi Konflik Sosial Dengan Bhineka Tunggal Ika


Indonesia, negara yang diberkati dengan keanekaragaman sosio-kultural terbesar di dunia. Hal tersebut dapat menjadi modal dalam membangun bangsa menjadi bangsa yang besar dan luhur apabila segenap bangsa Indonesia mampu mengelola perbedaan tersebut dengan baik. Namun apabila keanekaragaman tersebut tidak dikelola dengan baik, maka hal ini akan menjadi sumber kehancuran bagi bangsa Indonesia. Bangsa yang sangat beraneka ragam akan budaya, adat istiadat, agama, suku, ras, etnis, dan bahasa, sempat mengundang decak kagum negara-negara di dunia beberapa dasa warsa yang lalu karena di tengah kondisi yang begitu beraneka ragam, bangsa Indonesia mampu hidup rukun dan bersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Namun beberapa tahun saat ini, semangat persatuan tersebut semakin luntur di tengah kehidupan bangsa Indonesia dengan semakin maraknya konflik-konflik sosial yang dilatar belakangi permasalahan suku, etnis dan agama. Tengoklah beberapa tragedi yang membuat miris hati kita, seperti tragedi di Poso, Ambon, Sampit, Cikeusik, kasus bentrok lampung yang belum lama ini terjadi yang menewaskan belasan orang dan begitu banyak kasus-kasus bentrok antar warga serta bentrok antar pelajar atau mahasiswa. Kasus-kasus tersebut mengindikasikan semakin ditinggalkannya semangat persatuan di dalam perbedaan yang dirintis oleh founding fathers NKRI dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.
Dalam rangka upaya membagkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan, maka perlu upaya dari berbagai lini kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya dan agama dan hal ini bukanlah hanya tanggung jawab pemerintah namun juga tanggung jawab semua komponen masyarakat negeri ini. Ke semua sendi-sendi kehidupan manusia tersebut harus bersinergi satu sama lain dengan semangat akan nilai-nilai yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika.
 Pendidikan misalnya, salah satu konsep pendidikan yang dapat ditawarkan adalah pendidikan yang berbasis multikultural. Dalam konsep pendidikan multikultural, maka pendidikan tidak hanya sebgai lembaga yang hanya mencetak manusia yang memiliki intelektualitas yang mumpuni namun juga manusia yang memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dalam memandang berbagai perbedaan untuk saling menghargai dan menghormati. Maka dalam pelaksanaannya, proses pendidikan  harus memperhatikan berbagai perbedaan yang dimiliki oleh para peserta didik, seperti perbedaan suku, ras, etnis, agama, umur, bakat, minat, dan kecepatan dalam menyerap informasi. Perbedaa-perbedaan yang ada pada peserta didik tersebut harus menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kurikulum di sekolah-sekolah agar out-put yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan merupakan pribadi-pribadi yang memiliki sifat humanis, pluralis, dan demokratis sehingga mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat menghormati dan menghargai perbedaan dirinya dengan orang lain.
Dalam kehidupan beragama, salah satu konsep yang dapat kita terapkan dalam membina kerukunan hidup berbangsa yakni konsep Agree in disagreement, setuju dalam ketidaksetujuan atau sepakat dalam perbedaan. Konsep tersebut merupakan  buah pemikiran salah satu pemikir pembaruan dunia Islam di Indonesia yakni Mukti Ali yang didasari atas ragamnya budaya dan agama di Inonesia, yang dilandasi pemahaman beliau secara mendalam terhadap teks-teks keagamaan dan nilai-nilai fundamental agama. Dalam pandangannya tersebut, beliau mencetuskan tiga bentuk kerukunan hidup beragama yang biasa kita sebut trilogi kerukunan hidup beragama.
Pertama, kerukunan antar umat seagama. Dalam satu agama, terdapat banyak kelompok yang berbeda-beda, misalnya dalam Islam terdapat 4 mazhab besar, di Indonesia sendiri terdapat Muhammadiyah, NU, Masyumi, dan lain sebagainya. Begitu juga umat agama non Islam yang memiliki perbedaan di dalam agama mereka. Menurut Mukti Ali, adanya perbedaan dalam satu agama dapat memicu adanya perselisihan yang bahkan sering berujung pada perpecahan antarumat seagama apabila perbedaan-perbedaan tersebut tidak dikelola secara baik.
Kedua, kerukunan antar umat berbeda agama. Di belahan dunia manapun, konflik agama pernah terjadi tidak terkecuali di Indonesia. Masih teringat jelas di benak kita akan ganasnya tragedi Poso dan Ambon yang menjadi sejarah kelam Indonesia dalam merajut kerukunan antar umat berbeda beragama. Itu adalah fakta apabila perbedaan agama tidak disikapi dengan saling menghargai dan menghormati maka akan timbul konflik-konflik semacam itu. Maka sudah suatu kewajiban bagi para penganut agamanya masing-masing untuk dapat hidup berdampingan secara rukun dan damai dengan penganut agama yang lain.
Ketiga, kerukunan umat beragama dengan pemerintah. Antara umat beragama dengan pemerintah sangat penting sekali menjalin hubungan yang harmonis, agar para penganut agama masing-masing dapat menjalankan ritual-ritual keagamaan mereka dengan perasaan aman, damai dan terjamin. Berkaitan dengan hal ini Mukti Ali menyatakan bahwa negara indonesia bukanlah negara teokrasi dan bukan pula negara sekuler.
Dengan menerapkan ketiga hal tersebut, maka akan terciptalah kerukunan antar umat seagama, antar umat berbeda agama, dan antara umat beragama dengan pemerintah. Apabila ketiga hal tersebut dijalankan oleh masyarakat Indonesia, maka akan dipastikan dapat meredam berbagai konflik agama yang mendera bangsa Indonesia. Pada akhirnya, setiap warga negara dapat menjalankan aktivitas keagamaan mereka dengan perasaan aman dan damai.

Read more..

Tinjauan Filosofis Kurikulum Pendidikan Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman


BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Salah satu tugas pokok filsafat pendidikan Islam adalah memberikan arah bagi tujuan pendidikan Islam. Tujuan pendidikan yang hendak dicapai harus direncanakan (diprogramkan) dalam kurikulum. Antara tujuan dan program harus ada kesesuaian dan keseimbangan. Tujuan pendidikan yang hendak dicapai harus tergambar di dalam program yang tertuang di dalam kurikulum, bahkan program itulah yang mencerminkan arah dan tujuan yang diinginkan dalam proses kependidikan. Kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kependidikan Islam. Segala hal yang harus diketahui atau diresapi serta dihayati oleh peserta didik, harus ditetapkan dalam kurikulum. Juga segala hal yang harus diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik, harus dijabarkan ke dalam kurikulum[1].
Dengan demikian, dalam kurikulum tergambar jelas secara berencana bagaimana dan apa saja yang harus terjadi dalam proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik. Jadi, kurikulum menggambarkan kegiatan belajar-mengajar dalam suatu lembaga kependidikan. Di dalam kurikulum, tidak hanya dijabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik, dan peserta didik mempelajarinya, tetapi juga segala kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu karena mempunyai pengaruh terhadap peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Kurikulum sebagai rancangan pendidikan, mempunyai kedudukansentral, menentukan kegiatan dan hasil pendidikan. Penyusunannya memerlukan fondasi yang kuat, didasarkan atas hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Kuriklum yang lemah akan menghasilkan manusia yang lemah pula.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian kurikulum dalam Pendidikan Islam?
2.      Apa saja cakupan, asas-asas dan ciri-ciri kurikulum dalam Pendidikan Islam?
3.      Apa saja prinsip-prinsip kurikulum dalam Pendidikan Islam
4.      Apa tantangan kurikulm Pendidikan Islam dalam menghadapi perkembangan zaman?

C.  Tujuan dan Kegunaan Penulisan
1.      Tujuan
1)      Untuk mengetahui pengertian kurikulum dalam Pendidikan Islam
2)      Untuk mengetahui cakupan, asas-asas, dan ciri-ciri kurikulum dalam Pendidikan Islam
3)      Untuk mengetahui prinsip-prinsip kurikulum dalam Pendidikan Islam
4)      Untuk mengetahui tantangan-tantangan kurikulum Pendidikan Islam dalam menghadapi perkembangan zaman.
2.      Kegunaan
1)      Memberikan masukan bagisi swa, guru, dansekolah dan seluruh stake holder dalam dunia pendidikan Islam dalam mengembangkan kurikulum pendidikan Islam.
2)      Menjadi salah satu sumber bahan bacaan pertimbangan serta bahan rujukan terhadappenelaahantentangkurikulum Pendidikan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian Kurikulum
Kata Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu currere yang berarti jarak tempuh lari, yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari muali dari start hingga finish. Pengertian ini kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan. Dalam bahasa Arab, istilah kurikulum diartikan dengan Manhaj, yakni jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupannya. Dalam konteks pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik/guru dengan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai[2]. Pengertian kurikulum yang diungkapkan oleh para ahli ternyata sangat beragam, tetapi dari beberapa definisi itu dapat ditarik kesimulan, bahwa di satu pihak ada yang menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dan di lain pihak lebih menekankan pada proses atau pengelaman belajar.
Pengertian lama tentang kurikulum lebih menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dalam arti sejumlah mata pelajaran atau kuliah di sekolah atau perguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah juga keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan, terbatas pada pengetahuan-pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah atau institusi pendidikan lainnya dalam bentuk mata pelajaran-mata pelajaran yang dikaji begitu lama oleh peserta didik dalam tiap tahap pendidikannya[3]. Demikian pula definisi yang tercantum dalam UU Sisdiknas No. 2/1989. Sedangkan definisi yang dikemukakan oleh Kamil dan Sarhan menekankan pada sejumlah pengalaman pendidikan, budaya, sosial, olah raga, seni yang disediakan oleh sekolah bagi para peserta didiknya di dalam dan di luar sekolah, dengan maksud mendorong mereka untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan[4].Dan juga definisi kurikulum dalam UU Sisdiknas No. 20/2003 dikembangkan ke arah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu[5].
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu adalah merupakan landasan yang digunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental. Ini berarti bahwa proses Pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, akan tetapi hendaknya mengacu pada konseptualisasi manusia paripurna, baik sebagai khalifah maupun ‘abd, melalui transformasi sejumlah pengetahuan ketrampilan dan sikap mental yang harus tersusun dalam kurikulum pendidikan Islam. Disinilah filsafat pendidikan Islam dalam memberikan pandangan filosofis tentang hakikat pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental yang dapat dijadikan pedoman dalam pembentukan manusia paripurna ( al- insan al-kamil).

B.       Cakupan, Asas-asas, dan Ciri-ciri Kurikulum dalam Pendidikan Islam
1.      Cakupan Kurikulum Pendidikan Islam
Cakupan bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum pada masa sekarang nampak semakin luas. Berdasarkan perkembangan pada saat sekarang ini, maka para perancang kurikulum memasukan cakupan meliputi empat bagian. Pertama, bagian yang berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh proses belajar mengajar. Kedua, bagian yang berisi pengetahuan, informasi-informasi, data, aktivitas-aktivitas, dan pengalaman-pengalaman yang merupakan bahan bagi penyusunan kurikulum yang isinya berupa mata pelajaran dalam silabus. Ketiga, bagian berisi metode penyampaian atau cara menyampaikan mata pelajaran tersebut. Keempat, bagian yang berisi metode penilaian dan pengukuran atas hasil pengajaran tersebut[6].Kesemuaannya harus tersusun dan mengacu pada suatu sumber kekuatan yang menjadi landasan dalam pembentukannya. Sumber-sumber tersebut dikatakan sebagai asas-asas pembentukan kurikulum pendidikan.
2.      Asas-asas Kurikulum Pendidikan Islam
Suatu kurikulum pendidikan, termasuk pendidikan Islam, hendaknya mengandung beberapa komponen utama seperti tujuan, isi mata pelajaran, metode mengajar, dan metode penilaian. Kesemuaannya harus tersusun dan mengacu pada suatu sumber kekuatan yang menjadi landasan dalam pembentukannya. Sumber-sumber tersebut dikatakan sebagai asas-asas pembentukan kuriulum pendidikan. Asas-asa umum yang menjadi landasan pembentukan kurikulum dalam pendidikan Islam adalah:
a.       Asas Agama
Seluruh sistem yang ada dalam masyarakat Islam, termasuk sistem pendidikannya harus meletakan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran Islam yang meliputi aqidah, ibadah dan muamalah. Hal ini bermakna bahwa itu semua pada akhirnya harus mengacu pada dua sumber utama syariat Islam, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Sementara sumber lainnya sering dikategorikan sebagai metode seperti ijma, qiyas dan ihtisan. Pembentukan kurikulum pendiidkan Islam harus diletakan pada apa yang telah digariskan oleh dua sumber tersebut dalam rangka menciptakan mausia yang bertaqwa sebagai ‘abd dan khalifah dimuka bumi.
b.      Asas Falsafah
Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar filosofis, sehingga susunan kurikulum pendidikan Islam mengandung suatu kebenaran, terutama dari sisi nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini kebenarannya. Secara umum, dasar falsafah ini membawa konsekwensi bahwa rumusan kurikulum pendidikan Islam harus beranjak dari konsep ontologi, epistemologi dan aksiologi yang digali dari pemikiran manusia muslim, yang sepenuhnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai asasi ajaran Islam.
c.       Asas Psikologis
Asas ini memberi arti bahwa kurikulum pendidikan Islam hendaknya disusun dengan mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui anak didik. Kurikulum pendidikan Islam harus dirancang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan anak didik, tahap kematangan bakat-bakat jasmani, intelektual, bahasa, emosi dan sosial, kebutuhan dan minat, kecakapan dan perbedaan individual dan aspek lainnya yang berhubungan dengan aspek-aspek psikologis.
d.      Asas Sosial
Pembentukan kurikulum pendidikan Islam harus mengacu ke arah realisasi individu dalam masyarakat. Pola yang demikian ini berarti bahwa semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan bakal terjadi dalam perkembangan masyarakat manusia sebagai mahluk sosial harus mendapat tempat dalam kurikulum pendidikan Islam. Hal ini dimaksudkan agar out-put yang dihasilkan menjadi manusia yang mampu mengambil peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya[7].
Keempat asas tersebut di atas harus dijadikan landasan dalam pembentukan kurikulum pendidikan Islam. Perlu ditekankan bahwa antara satu asas dengan asas lainnya tidaklah berdiri sendiri-sendiri, tetapi harus merupakan suatu kesatuan yang utuh sehingga dapat membentuk kurikulum pendidikan Islam yang terpadu, yaitu kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pengembangan anak didik dalam unsur ketauhidan, keagamaan, pengembangan potensinya sebagai khalifah, pengembangan kepribadiannya sebagai individu dan pengembangannya dalam kehidupan sosial.
3.      Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan Islam
Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany menyebutkan lima ciri kurikulum Pendidikan Islam. Kelima ciri tersebut secara ringkas dapat disebutkan sebagai berikut:
1)      Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan, metode-metode, alat-alat dan tekniknya bercorak agama.
2)      Cakupannya luas dan menyeluruh kandungannya, yaitu kurikulum yang benar-benar mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran yang menyeluruh. Di samping itu ia juga luas dalam perhatiannya. Ia memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologis, sosial, dan spiritual.
3)      Bersikap seimbang di antara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu juga seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan pengembangan sosial.
4)      Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
5)      Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.[8]

C.      Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Secara prinsipil kurikulum pendidikan Islam tak terlepas dari keterkaitannya dengan dasar-dasar dan tujuan falsafat pendidikan Islam itu sendiri. Beberapa bagian materi kurikulum dapat saja dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman dan lingkungan manusia, tetapi keterikatan hubungannya dengan hakikat kejadian manusia sebagai khalifah dan pengabdi Allah yang setia, tidak dapat dilepaskan sama sekali. Secara garis besarnya dalam kurikulum pendidikan Islam harus terlihat adanya unsur-unsur; (1) Ketauhidan; (2) Keagamaan; (3) Pengembangan potensi manusia sebagai khalifah Allah; (4) Pengembangan hubungan antar manusia; dan (5) Pengembangan diri sebagai individu[9].
Kurikulum Pendidikan Islam memiliki beberapa prinsip yang harus ditegaskan. Al-Syaibany dalam hal ini menyebutkan tujuh prinsip kurikulum pendidikan Islam, yaitu:
Pertama, prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajarannya dan nilai-nilainya. Setiap bagian yang terdapat dalam kurikulum, mulai dari tujuan, kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan dan sebagainya harus berdasar pada agama dan akhlak Islam. Yakni harus terisi dengan jiwa agama Islam, keutamaan, cita-cita, dan kemauannya yang baik sesuai dengan ajaran Islam.
Kedua, prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, yakni mencakup tujuan membina akidah, akal, dan jasmaninya, dan hal lain yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik termasuk ilmu-ilmu agama, bahasa, kemanusiaan, fisik, praktis, profesional, seni rupa, dan sebagainya.
Ketiga, prinsip keseimbangan yang relatif antara tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum.
Keempat, prinsip perkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan belajar. Begitu juga dengan alam sekitar baik yang bersifat fisik maupun sosial dimana pelajar itu hidup dan berinteraksi.
Kelima, prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual diantara para pelajar, baik dari segi minat maupun bakatnya.
Keenam, prinsip menerima perkembangan dan perubahan sesuai  dengan perkembangan zaman dan tempat.
Ketujuh, prinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum[10].

D.      Kurikulum Pendidikan Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman
Di dalam era millenium baru ini, efek negatif dari globalisasi dan krisis lingkungan hidup harus dihadapi oleh agama yang notebene selalu mendidik ke arah perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan hidup. Itu pula yang dihadapi oleh Pendidikan Islam sekarang dan yang akn datang. Padahal persoalan internal Pendidikan Islam sendiri, baik secara kelembagaan maupun keilmuan, masih menghadapi persoalan-persoalan klasik yang belum terpecahkan sampai sekarang, dari persoalan managemen, ketenagaan, sumber dana, sampai ke masalah infrastruktur dan kurikulum[11].
Dari kenyataan di atas menyebabkan kualitas Pendidikan Islam sangat rendah. Di sisi lain hal tersebut mengakibatkan para pengelola Pendidikan Islam tidak lagi sempat dan mampu mengantisipasi adanya tantangan globalisasi yang sudah begitu jelas menghadang di hadapannya. Lebih lanjut lagi menurut Amin Abdullah bahwa Pendidikan Islam masih selalu bergerak dengan perspektif “inward looking” (berorientasi ke dalam), tidak banyak upaya pengembangan ke luar karena masih sibuk mengurusi diri sendiri sehingga menyebabkan terjadinya stagnasi. Dalam menghadapi perkembangan global, Pedidikan Islam harus mulai membuka diri dengan menggunakan perspektif “outward looking”, yakni memahami apa yang terjadi dan berkembang di dunia global untuk kemudian mengantisipasinya dengan perbaikan-perbaikan ke dalam[12].
Dampak negatif yang turut menyertai globalisasi terhadap Pendidikan Islam di antaranya, ‎krisis moral. Melalui tayangan acara-acara di media elektronik dan media massa lainnya, ‎yang menyuguhkan pergaulan bebas, sex bebas, konsumsi alkohol dan narkotika, ‎perselingkuhan, pornografi, kekerasan, dan lain-lain. Hal ini akan berimbas pada ‎perbuatan negatif generasi muda seperti tawuran, pemerkosaan, hamil di luar nikah, ‎penjambretan, pencopetan, penodongan, pembunuhan oleh pelajar, malas belajar dan ‎tidak punya integritas dan krisis akhlaq lainnya.‎ Yang ke dua dampak negatif dari era globalisasi adalah krisis kepribadian. ‎Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di suatu negara yang menyuguhkan ‎kemudahan, kenikmatan dan kemewahan akan menggoda kepribadian seseorang. Nilai ‎kejujuran, kesederhanaan, kesopanan, kepedulian sosial akan semakin terkikis.Melihat berbagai hal dampak negatif yang ditimulkan oleh perkembangan zaman tersebut, maka sudah suatu keharusan bagi Pendidikan Islam untuk merumuskan kurikulum yang mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang kebal terhadap dampak negatif tersebut.
Selain dampak negatif, arus perkembangan zaman juga memunculkan tantangan semakin hilangnya batas-batas semu antarnegara dan bangsa di dunia akibat arus modal, jasa, komoditas, pengetahuan, dan manusia yang saling melintas antarperbatasan. Hal tersebut mangkibatkan dunia menjadi “rata”, artinya semua pesaing memiliki kesempatan yang sama, sehingga mereka yang tidak mampu menggunakan dan memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada, akan segera tertinggal. Dalam konteks penidikan, negara-negara yang tidak bisa menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas internasional akan segera tertinggal di arena  kompetisi dunia.[13]
Untuk menjawab berbagai tantang tersebut minimal ada enam orientasi atau pendekatan dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Islam, meliputi:
1.      Pendekatan Rasionalisme Akademik
Pendekatan ini menganut asumsi bahwa kurikulum merupakan transmisi budaya, nilai dan pengetahuan serta ketrampilan. Kurikulum harus mampu membuat peserta didik menggunakan kaidah-kaidah yang berpikir ketat dan terkendali dalam menguasai ilmu yang diajarkan.

2.      Pendekatan pengembangan proses kognitif
Pendekatan yang tidak hanya mengutamakan konten pendidikan tetapi juga bagaimana mengolah konten tersebut. Setiap aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa dan proses yang terjadi di dalam kelas. Dasar pikiran yang digunakan adalah peserta didik harus dilihat sebagai unsur yang interaktif dan adaptif dalam sistem.
3.      Pendekatan struktur pengetahuan
Asumsinya adalah penekanan yang benar dalam proses pembelajaran adalah membuka wawasan peserta didik akan struktur pengetahuan. Peserta didik harus memahami ide-ide yang fundamental, kosnep-kosnep dasar, serta materi yang diajarkan diorganisasikan dalam pola hubungan satu sama lain, baik hubungan di dalam disiplin ilmu maupun bersifat interdisipliner.
4.      Pendekatan teknologis
Pendekatan yang menekankan pada teknologi bagaimana ilmu pengetahuan itu ditransfer dan bagaimana memberi kemudahan-kemudahan dalam proses pembelajaran.
5.      Pendekatan aktualisasi diri
Kurikulum adalah alat untuk memperoleh pengalaman yang terbaikdalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologik secara keseluruhan. Sebagai alat, kurikulum harus mempunyai daya pebebas untuk pembentukan integritas personal peserta didik.
6.      Pendekatan relevansi-rekonstruksi sosial
Menurut pendekatan ini, kurikulum harus mencerminkan hubungan-hubungan permasalahan sosial masa kini dan masa depan dengan perkembangan peserta didik yang sesuai. Perkembangan sosial dan pengaruh timbal balik terhadap kualitas mentalitas dan kualifikasi diri peserta didik harus dijadikan dasar pemikiran dalam pengembangan kurikulum.[14]
Selain pendekatan-pendekatan yang diambil dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Islam guna menghadapi tantangan zaman, lembaga pendidikan Islam perlu merumuskan kurikulum yang  menyajikan program-program yang kompetitif. Dilihat dari metode penyajianya, program-program tersebut menyentuh tiga aspek pembelajaran, yaitu kognitif (pemahaman), afektif ( penerimaan/sikap) dan psikomotorik (ketrampilan). Jika mengacu pada konsep dasar pendidikan oleh UNESCO, proses pembelajaran di Lembaga Pendidikan Islam harus dapat membantu peserta didik memiliki lima kemampuan, yaitu to know (meraih pengetahuan) , to do (berbuat sesuatu), to be (menjadi diri sendiri), to live together (hidup berdampingan), to know god’s creation (mengenal ciptaan Tuhan)[15]. Bila semua aspek dan kemampuan ini disajikan secara terpadu, maka para lulusan lembaga Pendidikan Islam diharapkan memiliki keseimbangan antara kualitas ilmu/intelektual, iman dan amal/akhlak.
  

BAB  III
PENUTUP


Kesimpulan
Dari ragamnya pengertian kurikulum yang diungkapkan oleh para ahli dapat kita tarik kesimpulan, bahwa di satu pihak ada yang menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dan di lain pihak lebih menekankan pada proses atau pengelaman belajar.Pengertian lama tentang kurikulum lebih menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dalam arti sejumlah mata pelajaran atau kuliah di sekolah atau perguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah juga keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan. Sedangkan pengertian baru lebih menekankan pada proses atau pengalaman belajar dalam arti sejumlah pengalaman pendidikan, budaya, sosial, olah raga, seni yang disediakan oleh sekolah bagi para peserta didiknya di dalam dan di luar sekolah, dengan maksud mendorong mereka untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan
Kurikulum Pendidikan Islam harus memenuhi unsur-unsur; (1) Ketauhidan; (2) Keagamaan; (3) Pengembangan potensi manusia sebagai khalifah Allah; (4) Pengembangan hubungan antar manusia; dan (5) Pengembangan diri sebagai individu. Serta prinsip-prinsip dalam merumuskan kurikulum Pendidikan Islam, yakni prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajarannya dan nilai-nilainya, menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, keseimbangan yang relatif antara tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum, pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual diantara para pelajar, baik dari segi minat maupun bakatnya, menerima perkembangan dan perubahan sesuai  dengan perkembangan zaman dan tempat, dan keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum. Dengan demikian tujuan dari Pendidikan Islam dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA


[1] Bakri Marzuki. Falsafah Kurikulum Dalam Pendidikan Islam. (Palu: Jurnal Hunafa, 2008) hal. 24
[2] Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007) hal. 1-3
[3] Ibid
[4] Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan Islam 2. (Bandung: Pustaka Setia, 1997) hal. 75
[5] UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20/2003
[6] Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam 1. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997) hal. 25
[7]http://afifatin.blogspot.com/2010/04/tinjauan-filsafat-pendidikan-islam.html Di akses pada hari Sabtu 27 Oktober 2012 pada pukul 20:00 WIB
[8] Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam 1. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997) hal. 127
[9] Jalaluddin & Usman Said. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999) hal. 51-52
[10] Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam 1. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997) hal. 128
[11] Kata Pengantar Amin Abdullah. Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi. (Yogyakarta: Presma UIN-Suka, 2004) hal. ix
[12] Ibid
[13] Muhaimin. Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012) hal. 91
[14] Moch. Fuad. Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi. (Yogyakarta: Presma UIN-Suka, 2004) hal. 85-87
[15]  http://mbahduan.blogspot.com/2012/03/makalah-tantangan-pendidikan-islam.htmlDi akses pada hari Sabtu 27 Oktober 2012 pada pukul 20:30 WIB

Read more..
VISITS
free counter

RENUNGKAN

Andaikan hidupmu kau gunakan hanya untuk menghiasi dan mendandani RAGAmu saja, sedangkan kau tak menghiasi HATImu dengan AKHLAK, maka hakikatnya hidupmu hanya untuk memberi makan ulat dan cacing yang akan memangsamu kelak di LIANG LAHAT…….Tausiyah AL-Habib Umar bin Hafidz

harunyahya.tv

harunyahya.tv
Samudra kedahsyatan rahasia penciptaan Allah Ta'ala, oleh HARUN YAHYA setetes dari samudra rahasia penciptaan Allah terungkap dalam video dokumenter.
.

Kemanakah perubahan Bumi tercinta kita ini, ke arah yang lebih indahkah untuk anak cucu kita kelak, ataukah sebaliknya. KITALAH YANG MENENTUKAN SAAT INI

Hijaukan bumi kita untuk keteduhan dan keindahan alam hidup anak cucu kita kelak

News